gangguan imunodefisiensi tagged posts

Mengenal Gangguan Imunodefisiensi Sekunder

Jika seseorang mengalami kondisi mudah sakit atau mengalami serangkaian infeksi, maka bisa saja itu diakibatkan karena menurunnya sistem imun dalam tubuh. Kondisi tersebut, salah satunya bisa diakibatkan karena gangguan imunodefisiensi. Apabila seseorang menderita masalah itu, maka bakal terjadi gangguan sistem pada kekebalan tubuhnya.

Gangguan imunodefisiensi secara umum dapat kita ketahui terbagi menjadi dua jenis. Pertama adalah gangguan imunodefisiensi primer yang merupakan gangguan imun karena disebabkan faktor genetik. Seseorang yang mengalami ini bisa saja menderita sejak lahir karena diturunkan.

Berikutnya, ada gangguan imunodefisiensi sekunder. Berbeda dengan jenis primer, jenis ini biasanya disebabkan karena sumber luar, seperti dari bahan kimia beracun atau infeksi. Karena tidak berdasarkan faktor genetik, maka seseorang bisa mengalaminya di saat tertentu apabila tidak melakukan pencegahan.

Jika dibandingkan antara gangguan imunodefisiensi primer dengan yang sekunder, maka yang didapati adalah bahwasannya gangguan jenis sekunder yang paling banyak ditemukan kasusnya. Berkenaan dengan itu, maka dalam artikel ini akan dibahas secara khusus gangguan imunodefisiensi sekunder.

Untuk yang jenis sekunder, selain daripada yang sudah disinggung di atas, gangguan tersebut juga bisa disebabkan oleh kondisi lain yang dialami seseorang. Kondisi yang dimaksud seperti luka bakar yang terbilang parah, radiasi, menjalani kemoterapi, mengidap diabetes atau bahkan kekurangan gizi.

Sementara itu, berkenaan dengan gangguan imunodefisiensi sekunder bisa berbentuk kanker, AIDS, penyakit yang menyerang imunitas, dan lain sebagainya. Dalam melakukan tindakan medis sebagai bentuk pengobatan, biasanya dokter akan meresepkan sejumlah obat.

Umumnya, obat yang diberikan adalah antibiotik. Contohnya, jika seseorang menderita AIDS, maka dokter akan meresepkan dan memberikan obat antiretroviral kepada pasien untuk mengobatinya dan juga mengobati infeksi HIV. Namun demikian, dokter juga bisa menyarankan pasien untuk melakukan terapi immunoglobulin dalam mengatasi gangguan imunodefisiensi sekunder.

Di sisi lain, ada juga obat antivirus lainnya yang bisa saja diresepkan tenaga medis untuk pasien. Obat tersebut seperti asiklovir, amantadine, dan interferon. Hanya saja, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara mencegah agar tidak mengalami gangguan imunodefisiensi sekunder.

Upaya pencegahan ini sangat penting karena bukan rahasia umum, apabila seseorang yang mengalami gangguan tersebut, beberapa di antaranya masih belum ditemukan obat yang benar-benar bisa menyembuhkan, seperti HIV/AIDS.

Oleh karena itu, agar tidak mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, sangat disarankan pembaca mengoptimalkan upaya pencegahan. Adapun yang bisa dilakukan adalah menghindari hal-hal yang dapat mengganggu kesehatan. HIV/AIDS misalnya, sangat disarankan agar pembaca tidak melakukan hubungan seks bebas.

Jika seseorang melakukan hubungan seks bebas, terlebih tanpa pengaman atau kondom, maka akan bisa berisiko terinfeksi virus tersebut dan mengalami gangguan imunodefisiensi. Di sisi lain, mengomsumsi obat-obatan terlarang seperti narkoba, juga tidak dianjurkan, terlebih yang menggunakan alat bantu jarum suntik.

Kebiasaan buruk itu, bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga meningkatkan risiko penggunanya terinfeksi virus. Menjaga pola hidup sehat dengan setia pada pasangan dan tidak menggunakan narkoba adalah sedikit cara yang bisa dilakukan sebagai upaya pencegahan gangguan imunodefisiensi sekunder.

Itulah hal-hal yang bisa disampaikan menangani gangguan imunodefisiensi sekunder. Namun demikian, jika pembaca merasa belum cukup mendapatkan penjelasan, tidak ada salahnya mencari referensi lain sebagai acuan. Atau, lebih bagus langsung berkonsultasi dengan dokter terkait.

Akhir kata, yang perlu ditekankan adalah bahwa gangguan imunodefisiensi sekunder sebetulnya bisa dicegah. Lebih baik upayakan usaha pencegahan itu daripada mengalami gangguan tersebut. Namun demikian, jika ada yang sudah terkonfirmasi mengalami gangguan imunodefisiensi sekunder, segeralah pergi ke dokter untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Read More