Hati-Hati Salah Diagnosis, DBD Punya Gejala Mirip Corona

Penyakit pernapasan Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) tengah membuat geger dunia, termasuk Indonesia. Kini, per Kamis, 02 April 2020, jumlah penderitanya telah menyentuh angka 1700-an orang. Namun, di sisi lain, negara-negara di semanjung Malaya, seperti di Singapura, Malaysia, dan Indonesia juga tengah didera wabah demam berdarah dengue (DBB). Jangan salah kira dengan ambil kesimpulan tanpa diagnosis yang mumpuni. Sabab, DBD punya gejala mirip corona dan sebaliknya!

Hasil studi gabungan lembaga-lembaga kesehatan di Singapura mengungkapkan bahwa wabah demam berdarah di Asia Tenggara membuat penyebaran virus corona seperti serigala berbulu domba. Dengan gejala awal yang mirip, seseorang bisa saja salah diagnosis terinfeksi DBD, padahal sebenarnya ia terjangkit COVID-19.

Kasus ini, sebagaimana dilansir South China Morning Post (SCMP), pernah terjadi di Singapura. Seorang warga laki-laki berusia 57 tahun dirawat di rumah sakit setelah demam dan batuk-batuk selama tiga hari. Warga lainnya, perempuan, juga berusia 57 tahun, mengalami demam, nyeri otot, batuk ringan selama 4 hari, dan diare selama 2 hari. Hasil tes keduanya positif demam berdarah dengue (DBD). Namun, setelah perawatan, kondisi keduanya terus memburuk.

Mereka lantas melakukan tes SARS-CoV-2 lewat metode swab test, dan diketahui positif COVID-19. Setelah dites lebih lanjut, mereka diketahui tidak terinfeksi virus Dengue, dan hasil tes di awal disebut sebagai false positive. “Untuk virus Dengue dan Corona, keduanya punya beberapa kemiripan sehingga seseorang bisa mendapatkan hasil tes false positive,” kata Jeremy Lim, partner konsultan Oliver Wyman di bagian kesehatan dan ilmu hayati, dikutip dari sumber yang sama.

Kesamaan-kesamaan gejala kedua penyakit tersebut pertama kali dipicu oleh laporan dalam jurnal medis The Lancet yang menunjukkan kesamaan gejala antara penyakit yang ditularkan oleh nyamuk dan virus corona. “Penyakit dengue dan virus corona 2019 (Covid-19) sulit dibedakan karena mereka berbagi fitur klinis dan laboratorium,” tulis kelompok penulis dari Sistem Kesehatan Universitas Nasional Singapura, Rumah Sakit Umum Ng Teng Fong, dan Institut Kesehatan Lingkungan.

DBD punya gejala mirip corona, awalnya seseorang akan demam dan batuk-batuk. Oleh karena itu, butuh diagnosis dan pemeriksaan yang komprehensif agar pasien bisa mendapat penanganan yang tepat, sesuai dengan penyakitnya.

  • DBD dan Covid-19 di Indonesia

Adapun sejak awal tahun ini, Kementerian Kesehatan mencatat telah terdapat lebih dari 17.000 kasus DBD di seluruh Indonesia, dengan 104 di antaranya meninggal dunia. Penyakit DBD diketahui mewabah di Nusa Tenggara Timur, Lampung, Riau, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat sejak Januari lalu. Negara-negara lain di Asia Tenggara yang punya risiko besar terpapar wabah DBD adalah Filipina, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, dan Malaysia serta Singapura seperti telah disebutkan di awal. Pada 2019, misalnya, lebih dari 400.000 warga Filipina terinfeksi virus Dengue, dan 1.000 di antaranya meninggal dunia. 

Orang yang dengan penyakit DBD biasanya menderita demam dan ruam di kulit, tetapi tak disertai dengan batuk-batuk atau sakit tenggorokan—tak seperti orang yang terinfeksi COVID-19. Gejala-gejala lain penyakit DBD termasuk sakit kepala, sakit di belakang mata, pegal-pegal, mual, muntah-muntah, dan pendarahan ringan seperti mimisan. Sementara itu, gejala umum COVID-19 menurut WHO termasuk demam, batuk-batuk, dan sesak napas. Dalam kasus yang lebih parah, infeksi SARS-CoV-2 juga dapat menyebabkan pneumonia, masalah pernapasan, gagal ginjal, dan kematian.

Selain demam berdarah, orang yang terinfeksi virus Corona juga rentan salah didiagnosis penyakit lain, seperti dua kasus pertama COVID-19 di Indonesia yang awalnya didiagnosis penyakit bronkitis, dan menyebabkan 73 petugas medis di Depok yang berinteraksi dengan mereka mesti dikarantina. “Gagal mendeteksi COVID-19 karena hasil tes dengue yang posiitif punya implikasi serius, tak hanya kepada pasien tetapi juga kesehatan publik,” tegas tim penulis. 

Saat ini, ketika kasus Covid-19 semakin ingar bingar di Indonesia, tim medis bisa saja semakin keteteran dengan kondisi ini. Sebab, gejala mirip corona bisa saja membuat mereka kudu bekerja dengan ekstra. Ketelitian mereka dalam memeriksa kondisi pasien amat dituntut di tengah situasi yang serba sulit ini. Oleh karenanya, menjaga kesehatan dan kondisi tubuh sendiri adalah langkah paling bijak yang bisa kita lakukan untuk, setidaknya, meringankan tugas mereka.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>