Category Penyakit

6 Cara Menurunkan Darah Tinggi secara Alami

Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi penyebab utama munculnya penyakit seperti stroke dan penyakit jantung. Cara menurunkan darah tinggi ini tentu saja bisa dimulai dengan menjalani gaya hidup yang sehat.

Biasanya, orang yang mengidap hipertensi tidak menyadari hal itu karena tidak menunjukkan gejala. Namun, akan disadari ketika sudah menyebabkan adanya gangguan organ seperti penyakit jantung dan pembuluh darah.

Biasanya, hipertensi dan kolesterol yang didapat dari turunan cenderung tidak bisa dicegah atau dihilangkan sepenuhnya. Selain itu, usia, ras, dan jenis kelamin juga mempengaruhi seseorang mengalami hipertensi ini.

Namun, cara mencegah darah tinggi agar tidak muncul komplikasi keduanya adalah dengan menerapkan gaya hidup yang lebih sehat.

Cara Menurunkan Darah Tinggi

Selain mengkonsumsi obat hipertensi dari dokter, Anda juga bisa mengimbanginya dengan menerapkan gaya hidup sehat yang berkelanjutan agar hasilnya bisa maksimal.

Lalu, apa saja cara menurunkan tekanan darah tinggi yang bisa Anda lakukan? Simak tips berikut ini.

  1. Menghindari Makanan Pemicu Darah Tinggi dan Kolesterol

Cara menurunkan darah tinggi dan kolesterol bisa dengan menghindari berbagai makanan pemicu. Apa saja jenis makanan pemicu kolesterol ini?

  • Daging olahan yang menggunakan garam bernatrium tinggi sebagai bahan pengawetnya. Dua iris daging olahan ini mengandung sekitar 567-910 mg natrium. Daging olahan juga mengandung lemak jenuh yang tinggi dibanding daging merah segar. Mengkonsumsi daging olahan juga dapat meningkatkan risiko tingginya kolesterol jahat dalam tubuh.
  • Makanan cepat saji yang umumnya diolah dengan menggunakan minyak dan garam yang berlebihan. Hal ini berarti dalam makanan cepat saji terkandung natrium dan lemak trans yang sangat tinggi dan dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat dan tensi darah. Kolesterol darah yang menumpuk, maka terbentuk plak dan menyumbat pembuluh darah yang meningkatkan tekanan darah dalam tubuh Anda.
  • Dessert seperti bolu dan jenis makanan penutup lainnya. Dalam produk dari olahan susu biasanya akan menumpuk lemak jenuh. Dessert ini biasanya menggunakan mentega dan krim kocok yang termasuk lemak jenuh. Bahkan pada ice cream juga mengandung lemak yang lebih banyak dibanding burger dalam satu porsi sajiannya. Dengan begitu, mengurangi konsumsi cake, dessert, cookies, dan sejenisnya adalah satu dari sekian cara menurunkan darah tinggi dan kolesterol.
  • Keju olahan. Selain menggunakan bahan utama dari susu, keju juga diolah dengan menggunakan bahan kimia berupa natrium fosfat sebanyak 377 natrium dalam 28 gram sajian keju olahan. Takaran ini bahkan seharusnya dihindari oleh penderita darah tinggi dan kolesterol dalam satu porsi makan.
  • Rutin Berolahraga

Selain menghindari makanan yang tidak sehat, cara menurunkan darah tinggi selanjutnya adalah dengan rutin berolahraga dan kegiatan fisik lainnya. Olahraga dapat melatih otot jantung menjadi lebih kuat sehingga mampu memompa darah lebih banyak tanpa memaksa kinerja otot jantung. Sehingga tekanan pada pembuluh darah pun jadi ikut menurun.

Selain itu, ketika berolahraga, tubuh akan menyingkirkan kolesterol jahat yang ada di dinding pembuluh darah menuju liver. Di liver, nantinya kolesterol jahat ini diubah menjadi zat yang dapat membantu proses pencernaan, lalu akan dikeluarkan dari dalam tubuh.

Sehingga Anda disarankan untuk berolahraga setidaknya 150 menit dalam seminggu dengan intensitas olahraga sedang. Jenis oalhraga sedang yang bisa dilakukan adalah berupa jogging, berjalan, naik tangga, bersepeda, hingga berenang. Anda juga bisa juga melakukan latihan aerobik dengan intensitas sedang juga bisa mencegah hipertensi stadium 1.

  • Menerapkan Diet DASH

Diet DASH adalah diet yang berfokus pada pengurangan gula, garam, dan lemak dan meningkatkan asupan harian buah, sayur, dan garam utuh. Dengan asumsi 2000 kalori per hari dari setiap makanan dalam program diet ini. Berupa:

  • 4-5 sajian sayuran yang mengandung lemak dan kalori rendah. Setiap sajiannya terdiri dari 170 gram sayuran mentah atau yang dimasak dan jus sayuran. Atau bisa juga dengan mengkonsumsi 340 gram sayur mentah dalam satu sajiannya.
  • 6-8 sajian biji-bijian utuh seperti roti gandum utuh, sereal gandum utuh, beras cokelat, atau oatmeal. Satu porsi biji-bijian juga berupa 170 gram oat, nasi yang sudah dimakas, atau pasta.
  • 4-5 sajian buah yang terdiri dari satu buah apel, jeruk ukuran sedang, atau bisa juga dengan 170 gram buah segar lainnya. Serta satu setengah cangkir atau 150 gram jus buah.
  • 5 sajian kacang dan polong-polongan per minggunya.
  • 1 cup yoghurt tanpa lemak setiap hari.

Anda bisa menikmati 5 porsi masing-masing makanan di atas dalam satu minggunya. Anda juga perlu mengurangi takaran makanan yang menyebabkan tingginya tekanan darah seperti, asupan garam, gula, lemak dan minyak, serta daging atau lemak.

  • Mengurangi Asupan Garam, Lemak Trans, dan Lemak Jenuh

Cara mengurangi darah tinggi bisa dilakukan dengan mengurangi asupan lemak dan garam. Garam yang dikonsumsi setiap harinya tidak boleh lebih dari 5 gram atau 1 sendok teh. Sedangkan asupan lemak jenuh dalam sehari tidak lebih dari 10% asupan kalori harian.

  • Tidak Mengkonsumsi Alkohol dan Tidak Merokok

Cara menurunkan darah tinggi juga dilakukan dengan berhenti atau tidak mengkonsumsi alkohol. Menurut hasil riset, alkohol rentan dengan kenaikan tekanan darah. Setelah minum minuman beralkohol, tekanan bahkan dapat melonjak drastis hanya dalam 2 jam setelahnya. Bahkan konsumsi alkohol terus menerus dalam waktu lama dapat menyebabkan hipertensi kronis.

Selain itu, Anda juga harus berhenti merokok jika menginginkan tekanan darah turun. Rokok bisa meningkatkan jumlah kolesterol dan lemak darah sehingga nantinya akan berkumpul di pembuluh darah. Nikotin dapat mempersempit pembuluh darah yang membuat detak jantung semakin cepat dan tekanan darah meningkat.

  • Jagalah Berat Badan Ideal

Obesitas meningkatkan risiko terkena hipertensi, stroke, dan penyakit jantung. Jumlah penurunan berat badan yang direkomendasikan adalah 10 persen dari total berat badan. Rumus mengetahui berat badan ideal adalah dengan mengukur indeks massa tubuh (IMT).

Cara menurunkan darah tinggi dan kolesterol jahat di atas memang tidak sepenuhnya dapat mengubah faktor bawaan, tetapi hal itu haruslah terus diterapkan agar mengurangi risiko komplikasi. Anda juga perlu secara rutin memeriksakan kesehatan diri ke dokter dnegan mengecek tekanan darah dan kolesterol secara berkala.

Read More

Cari Tahu Penyebab Batuk yang Umum Terjadi

berbagai penyebab batuk yang umum terjadi

Batuk adalah reaksi refleks tubuh untuk membersihkan tenggorokan dari lendir atau substansi asing. Namun pada beberapa kasus, batuk mungkin bisa mengindikasi gejala penyakit medis lainnya. Terlebih, jika batuk terjadi selama lebih dari 3 pekan seperti batuk rejan yang masuk kategori batuk akut. Sebagian besar batuk akan mereda dengan sendirinya dalam hitungan hari atau minggu. 

Namun jika tetap ada hingga lebih 8 minggu, batuk tersebut sudah termasuk dalam kategori batuk kronis. Anda perlu tahu penyebab batuk tersebut dengan konsultasikan kepada dokter jika batuk berlangsung cukup lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Ada beberapa hal di bawah ini yang merupakan penyebab batuk yang paling umum terjadi. Mulai dari yang paling ringan dan bersifat sementara hingga yang permanen. Berikut penyebab batuk yang perlu Anda waspadai.

  1. Membersihkan tenggorokan

Cara termudah tubuh membersihkan tenggorokan dari lendir atau substansi asing seperti debu dan asap dengan batuk. Hal ini merupakan reaksi refleks untuk membuat seseorang bisa bernapas lebih lega. Batuk jenis ini hanya terjadi sekali saja, namun jika terus menerus terjadi, maka Anda perlu memerhatikan apa yang menjadi pemicunya, seperti kondisi sekitar, tempat kerja, dan lain-lain.

  1. Virus dan bakteri

Penyebab batuk yang paling umum adalah karena infeksi saluran pernapasan. Penyebabnya bisa karena virus atau bakteri dan berlangsung selama beberapa hari atau satu minggu. Bergantung pada pemicu, pengobatan bisa memerlukan antibiotik atau tidak. Misalnya infeksi bakteri seperti pneumonia dan batuk rejan juga bisa menyebabkan penderitanya terus menerus mengalami batuk.

  1. Asma

Penderita asma juga bisa mengalami batuk. Membedakannya dengan pemicu lain juga mudah karena biasanya disertai dengan wheezing atau bernapas dengan frekuensi tinggi yang disebut juga mengi. Orang yang menderita asma dalam jangka waktu panjang biasanya selalu membawa inhaler untuk meredakan asma ketika sewaktu-waktu terjadi.

  1. Merokok

Perokok aktif cenderung lebih sering batuk, bahkan ada yang disebut dengan smoker’s cough. Hal ini dapat terjadi sebagai reaksi terhadap zat berbahaya yang ada dalam rokok. Tidak hanya perokok aktif saja, perokok pasif hingga orang yang terpapar thirdhand smoke juga bisa batuk saat mengalami kontak.

  1. Reaksi konsumsi obat tertentu

Ada beberapa obat yang juga bisa menjadi penyebab batuk meskipun sangat jarang terjadi. Efek samping ini bisa muncul dari obat seperti ACE inhibitors yang digunakan untuk mengatasi tekanan darah tinggi dan masalah pada jantung. Biasanya yang terjadi adalah batuk kering. Selain itu, obat jenis lisinopril dan enalapril juga bisa menimbulkan efek samping seperti batuk. Ketika mengganti jenis obat yang dikonsumsi umumnya akan meredakan batuk yang terjadi.

  1. Terpapar iritan 

Beberapa orang juga bisa mengalami batuk ketika terpapar dengan iritan tertentu seperti obat nyamuk bakar. Saat menghirup obat nyamuk bakar semalaman dalam ruangan tanpa ventilasi udara bisa mengganggu pernapasan sehingga dapat menjadi penyebab batuk.

  1. GERD

GERD atau gastroesophageal reflux disease juga bisa menyebabkan batuk kronis. Ketika kambuh, artinya asam lambung atau isi perut naik kembali ke esofagus. Kondisi ini menjadi stimulus seseorang refleks mengalami batuk. Biasanya, GERD juga disertai sensasi panas di tenggorokan.

Read More

6 Penyebab Wajah Gatal dan Cara Mengatasinya

Memiliki kulit wajah yang bersih, sehat, dan cerah tentu adalah impian para wanita. Namun, ada saja faktor yang menghalangi tercapainya hal itu, yaitu wajah gatal hingga mengelupas. Kondisi ini kerap kali membuat tidak nyaman dan tangan tidak tahan untuk segera menggaruknya. Alhasil, kulit wajah jadi merah dan mengelupas. Sebenarnya, apa sih yang menyebabkan wajah gatal? Perawatan apa yang harus dilakukan agar wajah gatal ini tidak terjadi lagi? Yuk, simak di sini penjelasannya!

  • Kulit kering (dry skin).

Perempuan yang memiliki kulit kering cenderung sering merasa gatal di area wajahnya. Penyebab kulit kering sendiri bisa berbagai faktor, seperti sering mencuci wajah, terpapar bahan kimia, dan kelembaban udara yang rendah.

American Academy of Dermatology merekomendasikan cara mengatasi wajah gatal karena kulit kering sebagai berikut.

  • Gunakan air hangat untuk membersihkan wajah.
  • Pilih pembersih bebas alkohol.
  • Bersihkan wajah cukup dua kali sehari pada pagi dan malam hari sebelum tidur.
  • Oleskan pelembap setelah membersikan wajah untuk mengunci kelembapan.
  • Oleskan lip balm dengan petrolatum jika bibir pecah-pecah.
  • Pakai syal untuk melindungi wajah dari paparan suhu dingin.
  • Gigitan serangga.

Bisa saja wajah gatal Anda karena digigit nyamuk, semut, serangga, dan sejenisnya. Rasa gatal ini biasanya cepat hilang. Hanya saja, gigitan serangga tertentu, seperti kutu atau tungau dapat menyebabkan gatal yang berkepanjangan. Anda bisa membersihkan area yang gatal dengan sabun dan air, mengompres dengan es atau air dingin, dan minum obat pereda nyeri atau antihistamin jika diperlukan.

  • Kondisi kulit tertentu.

Kondisi kulit tertentu juga dapat menyebabkan wajah gatal dalam waktu lama. Beberapa masalah kulit yang bisa menimbulkan rasa gatal, meliputi:

  • Cacar air, yang disebabkan oleh virus menular.
  • Folliculitis, yaitu peradangan pada folikel rambut di kulit.
  • Eksim, yaitu kulit gatal, merah, pecah-pecah, dan meradang.
  • Gatal-gatal akibat reaksi alergi, sehingga menyebabkan bengkak pada kulit.
  • Psoriasis, yaitu penyakit kulit kronis dengan timbulnya bercak merah dan bersisik pada kulit.
  • Dermatitis sebhorreik, adalah gangguan pada kulit kepala.
  • Kurap, disebabkan infeksi jamur pada kulit.
  • Herpes zoster, yaitu infeksi virus yang menyebabkan ruam.

Jika wajah gatal Anda disebabkan oleh kondisi kulit seperti ini, maka segeralah konsultasi dengan dokter kulit. Dokter akan memberikan pengobatan yang sesuai dengan masalah kulit Anda, seperti lotion, obat topikal, dan antihistamin.

  • Kanker kulit.

Sebagian besar, tanda orang mengalami kanker kulit atau melanoma adalah muncul bintik, bercak, atau perubahan pada kulit mereka. Tidak jarang, bercak itu yang membuat wajah gatal-gatal.

Anda harus segera menemui dokter kulit agar lebih memastikan kondisi dari kulit dan penyebab wajah gatal. Jika Anda menderita kanker kulit, dokter melakukan pengobatan yang tepat untuk menghilangkan rasa gatal tersebut.

  • Reaksi alergi.

Kulit bisa menimbulkan reaksi alergi terhadap banyak zat, termasuk kulit wajah. Salah satu zat yang menyebabkan alergi adalah nikel. Senyawa ini banyak ditemukan dalam produk yang dekat dengan Anda, salah satunya bingkai kacamata, sehingga bisa menyebabkan wajah gatal.

Jika Anda mengalami reaksi alergi, kemungkinan besar Anda akan mengalami ruam dan rasa gatal yang hebat. Anda harus mencari tahu apa yang menyebabkan alergi muncul, sehingga Anda lebih berhati-hati lagi terhadap barang atau sesuatu penyebab rasa gatal. Dokter kulit mungkin akan meresepkan Anda obat krim atau salap steroid.

  • Usia lebih dari 65 tahun.

Meskipun tidak semuanya mengalami hal ini, tapi usia terkadang juga menjadi penyebab wajah gatal. Seiring bertambahnya usia, kondisi kulit pun juga ikut berubah. Kulit pada usia 65 tahun ke atas jadi lebih tipis dan kelembapannya pun menurun. Akibatnya, kulit jadi kering dan terasa gatal.

Anda dapat menggunakan pelembab wajah agar kulit tidak kering. Selain itu, perbanyak konsumsi buah-buahan, sayur-sayuran, dan cukup minum air putih, agar kulit terhidrasi dengan baik. Bila perlu, temui dokter kulit Anda untuk menemukan penyebab dari wajah gatal yang sedang dialami dan mendapatkan penanganan yang tepat. Jadi, jangan biarkan rasa gatal semakin parah dan merusak kesehatan kulit wajah Anda, ya!

Read More

MERS

Middle East respiratory syndrome atau MERS-CoV adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh coronavirus.

MERS (Middle East respiratory syndrome), atau disebut sebagai MERS-CoV, merupakan infeksi saluran pernafasan yang dipicu oleh virus Corona. Jenis virus Corona penyebab MERS tidak sama dengan SARS (severe acute respiratory syndrome), namun dapat menimbulkan kondisi yang sama pada manusia.

MERS pertama kali terjadi di Arab Saudi pada tahun 2012. Sejak saat itu, infeksi tersebut menyebar ke wilayah Timur Tengah, kemudian ke seluruh dunia.

Sebagian besar kasus MERS tersebar melalui bepergian dari Timur Tengah ke luar negeri atau orang-orang yang datang ke Timur Tengah. Sebagian besar penderita MERS mengalami infeksi saluran pernafasan bawah yang menyerupai dengan pneumonia, dan dapat menimbulkan gejala berupa batuk, demam, dan sesak nafas.

Tidak hanya itu, MERS juga dapat menyebabkan gagal pernafasan atau gagal ginjal, bahkan bisa menimbulkan kematian. Jumlah pasien yang meninggal akibat MERS adalah sebanyak 3 atau 4 dari 10 pasien. Oleh karena itu, jika Anda berencana untuk pergi ke Timur Tengah, atau pulang dari Timur Tengah, Anda perlu menjaga kondisi Anda dengan menerapkan protokol kesehatan.

Gejala

Gejala MERS serupa dengan influenza dan biasanya muncul dalam waktu 2 hingga 14 hari setelah mengalami infeksi virus. Sama seperti virus Corona, MERS juga bisa tidak menimbulkan gejala sama sekali. Namun, jika penderita mengalami gejala, berikut adalah gejala yang mungkin akan dialami:

  • Batuk.
  • Demam.
  • Sesak nafas.
  • Nyeri di bagian dada.
  • Menggigil.
  • Sakit tenggorokan.
  • Tubuh terasa pegal.
  • Nyeri di bagian kepala.
  • Diare.
  • Mual.
  • Muntah.

Komplikasi

MERS juga bisa membuat seseorang mengalami komplikasi seperti kegagalan organ (khususnya di bagian ginjal) dan pneumonia. Sebagian kasus juga menunjukkan bahwa penderita bisa mengalami gangguan pernafasan yang berat sehingga membutuhkan alat bantu nafas (ventilator).

Penyebab

Pada dasarnya, penyakit MERS disebabkan oleh virus Corona. Virus Corona dapat menyebar melalui dua cara, antara lain:

  • Dari hewan ke manusia

Virus Corona dapat menyebar melalui unta. Unta yang terinfeksi bisa menular ke manusia melalui kontak fisik, atau konsumsi susu atau daging unta yang tidak dimasak dengan matang.

  • Dari manusia ke manusia

MERS dapat menular dari manusia ke manusia lain. Contohnya, ketika seseorang merawat penderita yang mengalami MERS, orang yang merawatnya bisa tertular melalui kontak dekat melalui percikan air liur atau udara ketika penderita batuk.

Diagnosis

Jika seseorang mengalami MERS, mereka bisa periksa diri ke dokter. Dokter dapat membantu mereka dengan melakukan diagnosis. Sebelum melakukan diagnosis, dokter perlu menanyakan kondisi pasien.

Setelah itu, dokter dapat melakukan diagnosis. Diagnosis dapat dilakukan melalui pemeriksaan penunjang untuk mengetahui jika ada virus di dalam tubuh pasien atau tidak. Pemeriksaan penunjang meliputi tes darah, tes usap tenggorokan, dan rontgen dada.

Pengobatan

Meskipun belum ada pengobatan yang tepat untuk mengatasi MERS, MERS dapat diatasi dengan terapi suportif untuk mengurangi gejala dan mencegah terjadinya komplikasi pada tubuh pasien.

Pencegahan

Sama seperti virus Corona, pencegahan MERS dapat dilakukan dengan cara berikut:

  • Mencuci tangan dengan sabun dan air bersih setidaknya 20 detik.
  • Jangan menyentuh mata, hidung, atau mulut bila tangan Anda tidak bersih.
  • Jika batuk atau bersin, sebaiknya tutupi hidung dan mulut dengan tisu, kemudian segera buang tisu ke tempat sampah.
  • Menggunakan semprotan disinfektan untuk membersihkan permukaan barang yang sering disentuh.
  • Jangan pergi ke tempat yang terdapat wabah mematikan seperti MERS.

Kesimpulan

Menjaga kebersihan diri itu penting. Anda hanya perlu terapkan hal-hal yang disebutkan di atas untuk mencegah penyakit menular seperti MERS. Jika Anda butuh informasi lebih lanjut tentang MERS, Anda bisa tanyakan persoalan tersebut ke dokter.

Read More

Gejala dan Cara Menyembuhkan Tuberkulosis Paru

Salah satu penyakit yang menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) satu dari 10 penyebab kematian terbesar di dunia adalah Tuberkulosis paru (TB paru). Berdasarkan data yang dikutip dari Healthline, TB paru ini sudah menewaskan 1,7 juta orang di tahun 2016.

tuberkulosis paru

TB merupakan penyakit paru-paru yang diakibatkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bahkan bakteri TBC ini tidak saja menyerang paru-paru, tapi juga menyerang otak, usus, tulang, serta kelenjar. Sehingga nama penyakitnya disertai dengan nama organ yang diserang, misal TB paru, TB otak, dan sebagainya.

Anda perlu berhati-hati, sebab penyakit TB paru ini amat sangat mudah menular. Penularannya bisa dari percikan ludah dari penderita saat batuk, bersin, atau sedang berbicara.

Gejala Terkena Tuberkulosis Paru

Ada beberapa fase dalam penyakit Tb paru ini. Ketika bakteri masuk ke tubuh, mungkin tidak langsung menunjukkan gejala. Bisa saja bakteri berdiam selama bertahun-tahun dan setelahnya baru menunjukkan gejala. Fase ini dinamakan fase laten. Sedangkan bila seseorang langsung menunjukkan gejala setelah terpapar bakteri TBC, maka disebut memasuki fase aktif. Ada yang langsung masuk fase aktif tanpa melewati fase laten terlebih dahulu.

Lalu, apa saja gejala pengidap tuberkulosis ini?

  1. Batuk sudah 3 minggu lebih dan belum sembuh
  2. Demam
  3. Batuk berdahak dan bahkan berdarah
  4. Tubuh berkeringat di malam hari
  5. Badan terasa lemas terus
  6. Berkurangnya nafsu makan
  7. Berat badan menurun tiba-tiba tanpa sebab
  8. Terasa nyeri ketika batuk

Cara Penularan Tuberkulosis Paru (TB Paru)

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa penularan TB paru ini sangat mudah sekali terjadi dari satu orang ke orang lain melalui udara.

Misalnya, saat di tempat umum penderita TB paru batuk, bersin, atau bahkan mengobrol, udara sekitar sudah tercemar karena percikan air ludah yang keluar. Sekali batuk, penderita TBC dapat mengeluarkan sekitar 3000 percikan dahak ke udara.

Bakteri yang tersebar di udara tersebut bisa bertahan selama berjam-jam. Apalagi jika ruangannya gelap dan lembap.

Pada saat yang sama, Anda atau orang disekitar penderita TB menghirup udara yang terkontaminasi tersebut, maka bakteri bisa masuk dalam tubuh dan akan berkembang biak.

Namun perlu diingat bahwa TBC tidak menular melalui kontak fisik, berciuman, berjabat tangan, menggunakan peralatan makan yang sama dengan penderita TBC, atau berbagi makanan dan minuman dengan penderita tuberkulosis tidak menyebabkan seseorang tertular penyakit Tb ini.

Bakteri yang sudah terhirup melalui udara juga tidak serta merat menjadi penyakit TB di dalam tubuh. Pada kebanyakan kasus, bakteri akan tetap berada dalam tubuh dan menunggu kondisi tubuh sedang lemah, baru menginfeksi. Saat fase laten ini juga tidak menular.

Cara Menyembuhkan Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis paru ini sebaiknya diobati secepat mungkin. Penderita bisa sembuh asal konsisten minum obat hingga tuntas.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengobati penyakit TB ini sangat lama. Biasanya, penderita TB harus minum obat tiap hari selama 6 bulan tanpa boleh putus sekali pun. Jika sekali obat lupa diminum, maka pengobatan harus diulang dari awal.

Lamanya proses konsumsi obat ini membuat orang sulit menaati aturannya. Sehingga bakteri menjadi resisten atau kebal dalam tubuh. Sebab pada prinsipnya, bakteri akan mempelajari strategi obat menghancurkannya, lalu bereevolusi menjadi lebih kuat. Kemudian obat-obatan tak mampu lagi menghentikannya. Adapun jenis obat yang digunakan mengobati penderita Tuberkulosis paru adalah Isoniazid, rifampicin, Ethambutol, dan pyrazinamide. Jika bakteri sudah resisten, akan ada tambahan obat antibiotik fluoroquinon dan obat suntik jenis capreomycin dan amikacin. Ini juga akan dikonsumsi kurang lebih 20-30 bulan lamanya. Bisa juga menggunakan jenis obat lain untuk mengatasi bakteri yang sudah resisten, yaitu bedaquiline dan linezolid.

Read More

Gigitan Nyamuk Aedes Sebabkan Ruam Viruz Zika

Virus zika menyebar lewat gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi

Pernahkah Anda mendengar sebuah penyakit yang bernama viruz zika? Virus ini akan menyebabkan kombinasi ruam bintik datar (makula) dan benjolan kecil timbul kemerahan (papula). Nama teknis dari ruam tersebut adalah makulopapular, dan ruam ini sangat gatal. Virus zika menyebar lewat gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi. Penularan juga dapat terjadi dari ibu ke janin atau lewat hubungan seksual, transfusi darah, dan gigitan hewan. Virus biasanya ringan, dan dalam 80 persen kasus tidak menimbulkan gejala apapun. Apabila ada, gejala yang umum terjadi adalah ruam, demam, sakit kepala, lelah, konjungtivitis, dan sakit pada bagian persendian. Gejala tersebut akan hilang dalam dua minggu atau kurang. 

Viruz zika mendapatkan namanya dari sebuah hutan di Uganda bernama Zika, di mana virus tersebut dideskripsikan pertama kali pada tahun 1947. Virus zika menyebar luas di benua Amerika pada tahun 2015, dengan Brazil melaporkan ada ratusan ribu kasus virus zika, dengan banyak komplikasi serius pada ibu hamil. Umumnya, virus zika ditularkan lewat gigitan minyak dari spesies Aedes yang terinfeksi. Virus zika kemudian akan masuk ke kelenjar getah bening dan aliran darah. Reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap virus dapat ditunjukkan lewat ruam makulopapular. 

Gejala virus zika

Kebanyakan orang yang menderita virus zika tidak menunjukkan adanya ruam atau gejala lain. Dalam sebuah studi besar dari Brazil, hanya ada sekitar 38% mereka yang memiliki zika ingat bahwa mereka digigit oleh nyamuk. Apabila Anda memiliki ruam virus zika, ruam tersebut akan muncul dalam 3 hingga 12 hari setelah mendapat gigitan dari nyamuk yang terinfeksi. Ruam biasanya akan muncul pertama kali di tubuh, untuk kemudian menjalar dan menyebar ke tangan, kaki, wajah, telapak tangan, hingga telapak kaki. Ruam tersebut merupakan kombinasi antara benjolan merah dan bintik kemerahan. Infeksi yang dibawa nyamuk lain, seperti demam berdarah dan chikungunya, memiliki ruam yang serupa. Semuanya diklasifikasikan sebagai flavivirus. Namun, berbeda dengan ruam flavivirus lain, ruam virus zika dilaporkan menyebabkan gatal pada 79 persen kasus. Ruam yang serupa juga dapat disebabkan karena reaksi obat, alergi, infeksi bakteri, dan peradangan sistemik. 

Diagnosa dan perawatan

Dokter akan menanyakan seputar riwayat perjalanan Anda, dan memastikan apakah Anda pernah berkunjung ke negara-negara di mana virus zika menjadi endemis. Mereka juga akan bertanya apakah Anda ingat pernah mendapatkan gigitan nyamuk di daerah tersebut. Dokter juga akan bertanya seputar gejala yang dirasakan dan kapan gejala tersebut muncul. Karena virus zika menyebabkan ruam yang mirip dengan infeksi virus lain, dokter akan meminta Anda melakukan beberapa jenis guna menyingkirkan penyakit-penyakit lain. Tes darah, air seni, dan air liur dapat membantu mengkonfirmasi virus zika, dengan beberapa jenis tes baru sedang dalam proses pengembangan. 

Saat ini, tidak ada perawatan spesial dan khusus untuk virus zika ataupun ruam yang ditimbulkan. Beberapa perawatan yang direkomendasikan hampir serupa dengan perawatan untuk penyakit mirip-flu lain, seperti cukup istirahat, minum banyak air, dan penggunaan acetaminophen untuk menurunkan demam dan mengurangi rasa sakit. Dengan perawatan yang baik, ruam akan hilang dalam 1 hingga 4 hari sejak pertama kali ruam muncul. 

Saat ini, belum ada vaksin untuk viruz zika. Virus ini biasanya ringan, dan banyak orang tidak menunjukkan adanya gejala-gejala ataupun tanda-tanda khusus. Apabila Anda memiliki ruam zika virus atau gejala lain, Anda dapat sembuh dalam waktu kurang dari 2 minggu. 

Read More

Jenis-jenis Aspergillosis dan Gejalanya

Aspergillosis merupakan sebuah infeksi, reaksi alergi, atau pertumbuhan jamur yang disebabkan olah jamur Aspergillus. Jamur ini biasanya tumbuh di tanaman yang membusuk atau tanaman yang mati. Paparan terhadap jamur tersebut bukan berarti Anda akan menderita aspergillosis secara otomatis. Hampir setiap orang mendapatkan paparan terhadap jamur tersebut setiap harinya dan tidak terjangkit penyakit ini. Biasanya, aspergillosis hanya akan terjadi pada mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah atau memiliki penyakit paru-paru.

Tipe dan gejala aspergillosis

Jenis aspergillosis yang berbeda memengaruhi tubuh dengan cara yang berbeda pula. Beberapa kondisi dan obat-obatan tertentu meningkatkan risiko Anda untuk menderita setiap jenis aspergillosis, dengan jenis aspergillosis yang berbeda memiliki gejala yang berbeda pula.

  • Alergi Bronkopulmonalis Aspergillosis (ABPA)

Dalam kasus alergi bronkopulmonalis aspergillosis, jamur Aspergillus menyebabkan reaksi alergi seperti batuk dan mengi. Anda akan lebih rentan untuk menderita aspergillosis jenis ini apabila memiliki gangguan kesehatan pada paru-paru, seperti asma atau fibrosis kistik. ABPA juga menyebabkan sesak napas, dan rasa tidak sehat pada tubuh.

  • Aspergillosis invasif

Anda akan lebih mungkin untuk menderita aspergillosis invasif apabila sistem kekebalan tubuh Anda melemah yang disebabkan oleh chemotherapy atau kondisi kesehatan tertentu, misalnya leukimia, kanker, dan penyakit AIDS. Sistem kekebalan tubuh yang melemah membuat tubuh kesulitan untuk melawan infeksi. Aspergillosis jenis ini akan menyerang jaringan paru-paru dan dapat menyebar ke ginjal serta otak. Apabila aspergillosis invasif tidak dirawat, penyakit ini dapat menyebabkan pneumonia yang menular. Pneumonia menular dapat mengancam nyawa pada orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang terganggu.

Aspergillosis invasif biasanya terjadi pada orang-orang yang sudah memiliki kondisi medis lain, sehingga akan sedikit sulit untuk memisahkan gejala yang disebabkan oleh aspergillosis invasif atau dari kondisi medis lain. Beberapa gejala aspergillosis invasif yang diketahui termasuk batuk (terkadang berdarah), rasa sakit pada dada, sesak napas, dan demam. Selain itu, infeksi di paru-paru dapat menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan gejala-gejala baru.

  • Aspergilloma

Apabila Anda memiliki tuberculosis (TBC) atau penyakit paru-paru lain, paparan terhadap jamur Aspergillus dapat menyebabkan pertumbuhan jamur. Juga dikenal dengan sebutan bola jamur, pertumbuhan jenis ini biasanya terdiri dari jamur, penyumbatan, dan sel-sel darah putih. Pertumbuhan ini biasanya tidak akan menyebar ke seluruh tubuh. Namun, bola jamur dapat bertambah besar dan bisa merusak jaringan paru-paru Anda.

Untuk kasus aspergilloma, gejala yang umum terjadi adalah batuk (berdarah atau tanpa darah) dan sesak napas. Gejala lain dari jenis-jenis aspergillosis yang berbeda termasuk rasa sakit di dada dan tulang, sulit melihat, darah di air seni, air seni yang berkurang, sakit kepala, tubuh menggigil, kesulitan bernapas, ruam di kulit, dan dahak atau lendir yang berdarah.

  • Aspergillosis pulmonary kronis

Pertumbuhan jamur Aspergillus hanya sebatas di paru-paru saja. Infeksi terjadi selama beberapa periode dan dapat menyebabkan paru-paru berlubang.

  • Cutaneous aspergillosis

Jamur Aspergillus masuk ke dalam tubuh melalui sel kulit mati atau rusak, mungkin setelah cidera terbakar atau intervensi bedah medis. Selain itu, aspergllosis invasif juga dapat menyebar dari paru-paru menuju kulit.

Alergi aspergillosis biasanya akan sembuh dengan sendirinya tanpa perlu perawatan medis khusus. Anda mungkin bisa menderita penyakit ini kembali apabila terus menerus terpapar jamur Aspergillus. Sementara itu, sembuh dari aspergillosis invasif sangat tergantung pada kondisi kesehatan keseluruhan dan kekuatan sistem kekebalan tubuh Anda.

Read More

Narkolepsi

Penyakit Narkolepsi, Saat Penderita Mendadak Tertidur

Narkolepsi adalah gangguan neurologis atau saraf dimana gangguan tersebut dapat mempengaruhi kontrol tidur dan kesadaran manusia untuk tetap terjaga. Orang yang terkena narkolepsi akan mengalami kantuk di pagi dan siang hari secara mendadak dan berlebihan.

Selain itu, penderita narkolepsi juga bisa tertidur secara tiba-tiba. Keadaan tersebut bisa terjadi tidak hanya ketika mereka mengalami kantuk, namun juga bisa terjadi ketika mereka melakukan aktivitas apapun.

Penderita narkolepsi juga bisa mengalami katapleksi atau melemasnya di bagian otot karena kehilangan kendali. Narkolepsi biasanya terjadi pada orang-orang yang berusia di antara 10 sampai 25 tahun.

Gejala

Pada umumnya, jika seseorang mengalami narkolepsi, maka gejala yang akan dialami adalah sebagai berikut:

  • Mengantuk secara berlebihan

Seseorang yang mengalami kantuk secara berlebihan, baik di pagi maupun siang hari, dapat mengganggu aktivitasnya.

  • Sleep paralysis

Sleep paralysis adalah gejala yang meliputi ketidakmampuan seseorang untuk bergerak, berbicara, atau bangun saat tidur. Hal tersebut terjadi selama beberapa menit.

  • Halusinasi

Penderita akan mengalami gejala seperti ini dimana mereka mimpi seolah-olah mereka benar-benar mengalaminya.

  • Katapleksi

Katapleksi adalah gangguan lain dimana seseorang kehilangan kendali atas ototnya, karena dipicu oleh emosi yang intens seperti gembira atau takut.

Penyebab

Penyebab narkolepsi tidak dapat ditentukan. Namun, sebagian orang yang mengalami narkolepsi, dipengaruhi oleh rendahnya jumlah protein atau hipokretin. Kegunaan hipokretin adalah mengatur siklus bangun dan tidur.

Rendahnya hipokretin mungkin dipicu oleh sistem imun yang salah mendeteksi dan menyerang sel-sel yang memproduksi hipokretin atau reseptor penerima hipokretin.

Selain rendahnya hipokretin, pengaruh lain yang dapat membuat seseorang mengalami narkolepsi, bisa saja karena adanya perubahan hormon, mutasi gen, stres, paparan racun, dan infeksi.

Diagnosis

Jika Anda terkena narkolepsi, Anda sebaiknya konsultasikan masalah ini dengan dokter. Dokter akan membantu Anda mengatasi masalah tersebut. Namun, dokter perlu melakukan diagnosis terlebih dahulu.

Diagnosis tersebut melibatkan pemeriksaan pada diri Anda. Anda dapat didiagnosis terkena narkolepsi jika Anda ingin tidur yang tidak dapat ditahan, dan terjadi berulang-ulang sehingga dapat membuat Anda tertidur, bahkan secara tiba-tiba.

Hal tersebut dialami setidaknya tiga kali dalam seminggu selama tiga bulan terakhir. Selain itu, Anda juga setidaknya mengalami setidaknya satu dari tiga kriteria di bawah ini:

  • Katapleksi yang terjadi setidaknya beberapa kali setiap bulan.
  • Kekurangan hipokretin.
  • Mimpi yang terjadi hingga 15 menit.

Dokter juga akan mendiagnosis berdasarkan gejala yang Anda alami seperti kantuk di pagi atau siang hari. Diagnosis yang dilakukan dokter meliputi:

  • Riwayat tidur

Anda diminta untuk membuat riwayat tidur secara terperinci.

  • Catatan tidur

Anda akan diminta untuk membuat catatan tentang pola tidur yang dialami selama satu hingga dua minggu.

  • Polysomnogram (PSG)

Tes tersebut dilakukan dengan mengukur berbagai sinyal saat Anda tidur, seperti detak jantung dan pergerakan otot.

  • Multiple Sleep Latency Test (MSLT)

Tes tersebut dilakukan untuk mengetahui berapa lama Anda tidur di siang hari.

  • Spinal tap

Tes tersebut dilakukan untuk mengetahui tingkat hipokretin Anda.

Cara Mengatasi Narkolepsi

Untuk mengatasi narkolepsi, Anda dapat menggunakan beberapa jenis obat sebagai berikut:

  • Stimulan

Obat tersebut digunakan untuk meningkatkan kesadaran.

  • Antidepresan trisiklik

Obat tersebut dapat mengurangi katapleksi, sleep paralysis, dan halusinasi.

  • Serotonin-norepinephrine reuptake inhibitor (SNRI)

Obat tersebut dapat mengatur tidur dan emosi Anda.

  • Sodium oxybate

Obat tersebut dapat meningkatkan waktu tidur, membuat Anda terjaga di pagi dan siang hari, dan mengurangi katalepsi.

Selain menggunakan obat-obatan yang disebutkan di atas, Anda juga dapat melakukan beberapa cara untuk mengatasi narkolepsi, antara lain:

  • Jadwalkan waktu tidur secara teratur.
  • Jaga berat badan dengan berolahraga secara teratur.
  • Hindari penggunaan nikotin dan alkohol, karena dapat memperburuk gejala narkolepsi.
Read More

Beberapa Negara Tidak Terkena Corona, Bagaimana Bisa?

Virus Corona atau Covid-19 telah menimbulkan banyak kasus yang terjadi di hampir setiap negara. Kasus virus yang berasal dari kota Wuhan, Tiongkok, telah meningkat dari hari ke hari. Meskipun demikian, ada beberapa negara tidak terkena Corona. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Negara-Negara Yang Tidak Terkena Corona

Ada 15 negara yang belum melaporkan adanya kasus Covid-19. Negara-negara tersebut antara lain Korea Utara, Komoro, Tajikistan, Turkmenistan, Lesotho, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Palau, Kiribati, Nauru, Samoa, Kepulauan Solomon, Tuvalu, Tonga, dan Vanuatu.

Rumor sempat terjadi dimana rumor tersebut menyatakan bahwa beberapa negara yang belum terkena kasus Covid-19 kemungkinan menutupi jumlah kasus yang terjadi. Namun, menurut Michael Yao, pakar tanggap darurat WHO (World Health Organization), mengatakan bahwa kasus di Afrika adalah salah satu kawasan yang rentan terhadap virus Corona sehingga kasus yang terjadi tidak mungkin ditutupi. Orang-orang yang terkena virus Corona pasti akan terdeteksi, karena virus Corona dapat menyebar dengan cepat.

Di sisi lain, beberapa ahli mengatakan bahwa iklim dapat menghentikan penyebaran virus Corona. Virus Corona mungkin tidak dapat menyebar jika kawasannya memiliki iklim yang hangat. Meskipun demikian, belum ada penelitian lebih lanjut tentang hal ini.

Sebagian negara tidak terkena Corona karena merupakan negara-negara kecil yang ada di kepulauan Pasifik, Asia, dan Afrika dimana negara-negara seperti ini kemungkinan bukan merupakan destinasi wisata dan tidak menarik perhatian turis sehingga kasus virus Corona di negara-negara tersebut belum terjadi.

Aturan-Aturan Negara Untuk Menangkal Virus Corona

Beberapa negara tidak terkena Corona telah membuat aturan yang ketat untuk bepergian. Contohnya, Korea Utara telah menerapkan aturan yang ketat jika ingin masuk atau keluar dari negara tersebut. Korea Utara merupakan salah satu negara pertama yang telah melakukan langkah-langkah intensif seperti menutupi perbatasannya untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Begitu pula dengan Turkmenistan dimana negara tersebut telah melakukan pembatasan perjalanan agar warganya tidak terkena virus Corona. Selain itu, Turkmenistan juga mengelola pembersihan massal dan mengkampanyekan kepada warga tentang penyebaran virus Corona.

Tajikistan telah memberlakukan pertemuan publik dan pembatasan perjalanan untuk mencegah Corona. Selain itu, negara tersebut juga mengatur keramaian, termasuk pada perayaan-perayaan tertentu.

Negara-negara lain telah menerapkan ‘Lockdown’ atau pembatasan sosial (Social Distancing atau Physical Distancing) untuk memaksimalkan upaya untuk mencegah penyebaran virus Corona. Meskipun demikian, jumlah kasus masih meningkat setiap hari dan jumlah kematian akibat Covid-19 terus bertambah.

Di Indonesia, beberapa wilayah telah memberlakukan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) dimana sejumlah usaha dihentikan operasinya untuk sementara waktu. Jabodetabek adalah salah satu wilayah yang telah memberlakukan PSBB. Meskipun demikian, masih banyak warga yang melanggar aturan PSBB seperti tidak mengenakan masker atau masih menjalankan usaha di tempat.

Cara-Cara Yang Perlu Dilakukan Untuk Mencegah Virus Corona

Beberapa negara tidak terkena Corona mungkin telah memberlakukan sejumlah aturan yang ketat. Oleh karena itu, untuk membantu mencegah penyebaran virus Corona, Anda juga perlu melakukan beberapa hal sebagai berikut:

  • Rajin mencuci tangan dengan menggunakan sabun, setidaknya selama 20 detik.
  • Jangan menyentuh mata, hidung, dan mulut jika tangan Anda tidak bersih.
  • Jangan keluar rumah, kecuali jika Anda ada keperluan mendesak seperti membeli obat.
  • Jika Anda keluar rumah, Anda wajib menggunakan masker.
  • Anda juga perlu menjaga jarak dengan orang lain setidaknya 1 meter.
  • Jangan melakukan kontak fisik dengan orang lain.
  • Konsumsi makanan yang sehat seperti sayuran dan buah-buahan.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Konsumsi obat untuk menjaga daya tahan tubuh.
Read More

Gejala, Penyebab, dan Cara Obati Kanker Paru-Paru

Merupakan sebuah kondisi di mana sel ganas yang disebut dengan kanker terbentuk di paru-paru, keadaan ini dinamakan kanker paru. Pada umumnya, keadaan ini dialami oleh banyak orang yang mengonsumsi rokok, penyakit ini juga menjadi salah satu dari tiga jenis kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia.

Meski demikian, penyakit ini tak hanya menyerang mereka yang dalam kondisi aktif merokok, karena kemungkinan juga bisa menyerang pada mereka yang bukan merokok. Seperti misalnya, orang yang terpapar zat kimia yang ada di sekitarnya, misalnya lingkungan kerja dan bisa pula terpapar asap rokok dari perokok aktif.

Penyebab dan Gejala Kanker Paru

Di Indonesia, kebanyakan seseorang yang mengalami penyakit ini disebabkan karena mereka merupakan perokok aktif. Bisa dibilang bawah rokok adalah penyebab utama munculnya penyakit ini, bahan ini mengandung setidaknya 60 racun berbeda yang dapat menyebabkan kanker dan dikenal dengan nama zat karsinogenik.

Sebagai perumpamaan mudahnya, jika seseorang mengonsumsi 25 batang rokok dalam sehari, maka ia berisiko 25 kali lebih tinggi terkena penyakit ini. Sebuah riset menunjukkan bahwa perokok pasif wanita dan memiliki pasangan perokok aktif, juga memiliki risiko 25 persen lebih besar ketimbang yang tidak tinggal dengan perokok aktif.

Selain rokok, ganja juga bisa menjadi bahan penyebab seseorang memiliki risiko terkena kanker ini, selebihnya paparan terhadap zat racun lain seperti arsen, asbes, bau gas atau bensin dan gas yang ditimbulkan dari kendaraan juga mampu membuat seseorang berisiko terkena kanker ini. Gejala penyakit ini baru muncul ketika tumor dalam bentuk yang cukup besar dan menyebar ke jaringan.

Seseorang yang terserang penyakit ini juga ditandai dengan gejala awal, di antaranya seperti batuk hingga kronis, batuk disertai darah, kemudian penurunan berat badan secara drastis. Selain itu, seseorang tersebut juga akan merasakan nyeri pada dada dan tulang hingga menyebabkan seorang penderita mengalami sesak napas.

Cara Pengobatan

Pengobatan atau penanganan utama yang diperlukan bagi penderita penyakit ini dalam tahap stadium awal adalah melalui operasi. Tetapi jika penderita sudah mencapai stadium lanjut, maka penanganan yang harus dan wajib dilakukan adalah dengan kemoterapi dan radioterapi. Sebelum proses pengobatan ini, dokter terlebih dahulu akan melakukan diagnosis.

Diagnosis mengenai penyakit ini pertama kali dilakukan adalah dengan foto rontgen, CT scan dan biopsi jaringan pada paru-paru. Dari ketiga pemeriksaan ini, dokter nantinya bisa menentukan jenis dan stadium kanker yang diderita oleh seseorang, selanjutnya langkah yang akan dilakukan adalah pengobatan.

Terdapat beberapa jenis penanganan dan pengobatan pada penyakit ini selain menggunakan kemoterapi dan radioterapi, yakni juga dapat menggunakan terapi target, terapi ablasi, terapi fotodinamik hingga krioterapi. Beberapa pilihan pengobatan ini bisa disesuaikan oleh si penderita dan tergantung kondisi si penderita.

Salah satu cara terbaik untuk menghindari penyakit ini adalah menjauhi rokok dan asapnya. Dalam beberapa artikel menyebutkan bahwa berhenti merokok selama 10 tahun mampu menurunkan risiko terkena penyakit ini hingga mencapai 50 persen. Selain itu, cara pencegahan lain juga bisa dilakukan dengan diet.

Diet rendah lemak, tinggi serat dan memperbanyak konsumsi sayur serta buah hingga biji-bijian mampu menurunkan risiko terkena penyakit ini dan bahkan kanker jenis lainnya. Ditambah dengan melakukan olahraga secara teratur juga membantu menurunkan risiko seseorang terkena kanker paru.

Read More