Category Parenting

Bonding Lebih Dekat antara Ibu dan Anak Perempuan? Ini Caranya

Ikatan antara ibu dan buah hatinya sejak masih dalam kandungan tentu bukan hal yang main-main. Bahkan hingga bertahun-tahun kemudian, tak bisa dipungkiri bahwa ibu dan anak punya ikatan yang spesial. Namun, tentu tidak selamanya hal ini berjalan dengan mulus.

Dengan segala kepraktisan dan mobilitas serba cepat dunia modern, kadang ikatan ini bisa tergerus karena rutinitas dan juga kesibukan. Akibatnya? Hubungan antara ibu dan anak hanya bersifat formalitas, tanpa ada kedekatan yang benar-benar mengikat antara keduanya.

Nah, menjelang Hari Ibu 22 Desember, kali ini kami akan membagikan beberapa cara mendekatkan ikatan antara ibu dan anak perempuan. Sudahkah cara ini Anda coba?

Jadi Pendengar yang Baik


Seorang psikiater dan penulis buku “I’m Not Mad, I Just Hate You! A New Understanding of Mother-Daughter Conflict” menegaskan, bahwa remaja perempuan ingin diperlakukan dengan serius dan didengarkan ketika bernegosiasi dengan ibu mereka.

Itu sebabnya, seorang ibu perlu menghargai perasaan anak gadisnya, bukannya mendikte yang seharusnya dirasakan. Inner voice adalah kunci dari kedekatan ibu dan anak perempuan. Jika sang ibu telah berada di posisi yang bisa memahami putrinya, maka bukan tidak mungkin, ibu akan jadi tempat curhat nomor satu baginya.

Berbicara dengan Nada Lembut


Tentu menghadapi remaja perempuan dengan situasi yang serba labil, sangat rentan bersinggungan dengan konflik. Sebagai seorang ibu, jangan merespons konflik dan percakapan yang memanas dengan nada bicara keras. Gunakan nada bicara lembut untuk menghindari konflik.

Berbagi dengan Ibu Lain


Dear Moms, you are not alone.
Bagi para ibu yang tak habis pikir dengan semua dinamika hubungan dengan putri tercinta, ingat bahwa Anda tidak sendiri. Berbagilah dengan ibu lain yang juga memiliki remaja perempuan seusia anak Anda. Saling bercerita cara menangani konflik akan memetakan yang sebaiknya dilakukan dan dihindari.

Tahu Waktu untuk Bersikap Tegas


Mengetahui posisi seorang ibu dalam menghadapi anaknya juga tak kalah penting. Dengan semua fluktuasi emosi yang terjadi pada remaja perempuan, tentu seorang ibu harus tahu cara merespons, terutama ketika harus bersikap tegas. Ketika momen ini terjadi, Anda mesti bisa mengantisipasi berbagai respons dari anak, termasuk yang meledak-ledak sekalipun. Namun tenang saja, semua akan berlalu ketika emosinya mulai mereda. Saat momen ini tercipta, ajak bicara dari hati ke hati.

Komunikasikan Rasa Sayang


Masih canggung untuk menunjukkan rasa sayang kepada buah hati, atau sebaliknya mereka pun tak terbiasa untuk melakukannya? Rasanya ini adalah saat yang tepat untuk mengubahnya perlahan-lahan. Tak ada salahnya menunjukkan rasa sayang kepada anak perempuan.


Setiap gesture rasa sayang, entah itu perkataan, perbuatan, hadiah, dan lainnya, akan menjadi hal yang memorable bagi Anda dan buah hati. Jika memang belum terbiasa untuk mengungkapkannya setiap hari, mungkin bisa dimulai saat momen Hari Ibu atau ulang tahun.

Girls Day Out


Dengan semua kesibukan masing-masing, rasanya sah-sah saja untuk mengalokasikan satu atau dua hari untuk girls day out. Ajaklah putri Anda untuk spa atau ke salon bersama. Berjalan-jalan bersama seharian tentu akan meluruhkan tembok pembatas dan membuat ikatan ibu dan anak perempuannya kian erat. Akan jauh lebih menarik jika Anda memiliki hobi yang sama dan bisa melakukannya berbarengan. Jangan sampai kehabisan ide. Cari tahu hal kreatif apa yang bisa kalian lakukan bersama-sama. Tak ada waktu? Melakukan semuanya di rumah dengan layanan home service juga bisa jadi solusi. Jadi, sudah memiliki gambarang tentang yang akan dilakukan atau perlu diubah dari gaya parenting Anda selama ini? Jika ada tips yang terbukti jitu, bagikan pada pembaca yang lainnya ya.

Read More

Perayaan Natal dan Tahun Baru: Saat Angka Bunuh Diri Malah Meningkat

Malam Natal dan tahun baru menjadi momen yang dinantikan banyak orang di seluruh dunia, dan dirayakan besar-besaran. Meski demikian, tanpa disadari, momen tersebut ternyata menjadi waktu ketika angka bunuh diri mencapai puncaknya.

Sebab pada masa-masa perayaan seperti ini, perasaan kesepian pun meningkat. Kondisi ini berpotensi memicu peningkatan angka bunuh diri. Menghadapi kondisi di luar ekspektasi terhadap hari-hari perayaan tersebut juga mendorong munculnya “efek ingkat janji”. Sejauh mana dampaknya terhadap kejadian bunuh diri? Simak ulasan berikut ini.

Ingkar Janji dan Angka Kejadian Bunuh Diri

Di malam Natal dan akhir tahun, pada umumnya banyak yang sengaja menghabiskan waktu dengan keluarga, teman, dan orang yang dicintai. Namun, tak sedikit juga yang masih harus bekerja dan memegang tanggung jawab, karena target dalam pekerjaan yang belum tercapai.

Sebuah penelitian dilakukan terhadap 1.000 orang dewasa. Hasilnya, sebanyak 30 persen di antaranya mengalami kesepian di masa libur hari besar dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, ada responden yang mengatakan bahwa keceriaan palsu selama perayaan tersebut, memberikan dampak sangat besar, sehingga menimbulkan keinginan bunuh diri.

Penelitian tahun 2017 menunjukkan, angka kematian sedikit menurun pada malam Natal dan malam tahun baru. Namun, angka tersebut meningkat tajam pada hari pertama tahun baru. Pelaku bunuh diri mayoritas pria berusia antara 15-24 tahun, serta 45-64 tahun.

Yang diduga menjadi penyebabnya adalah persoalan yang terakumulasi dari malam Natal hingga tahun baru. Dengan kata lain, jumlah kasus bunuh diri kemungkinan tertunda pada hingga 31 Desember, dan akhirnya memuncak di tanggal 1 Januari.

Selain itu, mayoritas pelaku bunuh diri merupakan pria berusia muda hingga separuh baya. Mereka diasumsikan lebih rentan terhadap konsumsi alkohol yang berlebih. Sehingga keesokan harinya, mereka mungkin saja mengalami intoksikasi alkohol, yang memunculkan perasaan impulsif, agresi, hingga konflik sosial.

Mengenali Gejala dan Mencegah Bunuh Diri

Banyaknya undangan serta kegiatan berkumpul yang harus dihadiri selama masa Natal hingga tahun baru, mungkin menjadi penyebab utamanya. Oleh karena itu, penting untuk bersosialisasi dan mendampingi teman serta kerabat yang hidup sendirian.

Selain itu, akan lebih baik jika para penderita depresi bisa menyampaikan hal-hal yang dibutuhkan. Sehingga, keluarga dan teman terdekat bisa bertindak dengan lebih bijak. Sayangnya, seperti yang diungkapkan J. Raymond DePaulo Jr., MD, seorang profesor dan professional di bidang psikiatrik, sekaligus direktur klik gangguan afeksi di Johns Hopkins School of Medicine di Baltimore, kemampuan berkomunikasi para penderita depresi mengalami penurunan drastic, karena mereka malu untuk mengatakan yang mereka perlukan dan takut dianggap aneh.

Maka dari itu, cobalah memberi bantuan dalam bentuk seperti ini:

  • Tawarkan dukungan. Beritahu mereka bahwa kita akan selalu bersama mereka, sebanyak apapun waktu, uang, dan tenaga yang mereka butuhkan.
  • Berikan pertanyaan, dan dengarkan mereka. Jangan berikan saran.
  • Temani mereka. Kebanyakan penderita depresi membaik jika mereka memiliki teman untuk menghabiskan waktu. Membiarkan mereka sendirian bisa jadi berbahaya.

Pastikan bahwa Anda ‘benar-benar’ peduli. Sebab, bisa jadi kehadiran Anda ternyata menjadi motivasi terbesar mereka untuk bertahan di saat-saat genting.

Read More